Rabu, 04 November 2009

Teori Pembelajaran Vygotsky dalam Cooperative Learning

18 Oktober 2009 374 views No Comment

Vygotsky adalah salah seorang tokoh konstrutivisme. Hal terpenting dari teorinya adalah pentingnya interaksi antara aspek internal dan eksternal pembelajaran dengan menekankan aspek ling-kungan sosial pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa pembelajaran terjadi ketika siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona perkem-bangan proksimal (zone of proximal development).

Ide penting lain dari Vygotsky adalah scaffolding. Scaffolding adalah pemberian se-jumlah kemampuan oleh guru kepada anak pada tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian menguranginya dan memberi kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab saat mereka mampu (Slavin, 1994). Kemampuan: yang dibe-rikan dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah pada langkah-langkah pemecahan, memberi contoh, ataupun hal-hal lain yang memungkinkan siswa tumbuh sendiri (Slavin,1994). Jelas bahwa scaffolding merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran kooperatif.

Teori pembelajaran Vygossky juga dapat kita gunakan sebagai salah satu teori di dalam model cooperative learning.
Menurut Suparno (1997), pembelajaran merupakan suatu per-kembangan pengertian. Dia membedakan adanya dua pe-ngertian pembelajaran yaitu, yang spontan dan yang ilmiah. Pengertian spontan adalah pe-ngertian yang didapati secara terus dan pengalaman siswa didapati dalam kehidupan seharian. Pengertian ilmiah adalah pengertian yang diperoleh di bilik darjah atau yang diperoleh di sekolah. Selanjutnya, Suparno (1997) mengatakan kedua-dua konsep itu saling berkaitan terus menerus. Apa yang disiswai siswa di sekolah mempengaruhi per-kembangan konsep yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan sebaliknya.

Sumbangan teori Vigotsky adalah penekanan pada bakat sosio budaya dalam pembelajaran. Menurutnya, pembelajaran terjadi ketika siswa bekerja dalam zon perkembangan proksima (zone of proximal development). Zon perkembangan proksima adalah tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang pada ketika pembelajaran berlaku?

Astuty (2000) secara terperinci, mengemukakan bahwa yang dimaksudkan dengan “zon per-kembangan proksima” adalah jarak antara tingkat per-kembangan sesungguhnya dengan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan sesungguhnya adalah kemampuan pemecahan masalah secara mandiri sedangkan tingkat per-kembangan potensial adalah kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa melalui kerja sama dengan rakan sebaya yang lebih mampu. Oleh yang demkian, maka tingkat perkembangan potensial dapat disalurkan melalui model pembelajaran koperatif. Ide penting lain juga diturunkan Vygotsky ialah konsep pemenaraan (scaffolding) (Nur 2000), yaitu memberikan sejumlah bantuan kepada siswa pada tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian menguranginya dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil alih tanggung jawab sekadar yang mereka mampu. Bantuan tersebut berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah pada langkah-langkah pemecahan, memberi contoh ataupun hal-hal lain yang memungkinkan siswa tumbuh kendiri.

Dalam teori Vygotsky dijelaskan bahwa ada hubungan secara langsung antara domain kognitif dengan sosio budaya. Kualiti berfikir siswa dibina dan aktivitas sosial siswa di dalam bilik darjah, dikembangkan dalam bentuk kerjasama antara siswa dengan siswa lainnya yang lebih mampu di bawah bimbingan orang

Pengelolaan Kelas Cooperative Learning

Menciptakan lingkungan yang optimal baik secara fisik maupun mental, dengan cara menciptakan suasana kelas yang yang nyaman, suasana hati yang gembira tanpa tekanan maka dapat memudahkan siswa memahami materi pelajaran. Pengaturan kelas yang baik merupakan langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar siswa secara keseluruhan. Sesuai dengan pen-dapat tersebut, maka dalam pelaksanaan model cooperative learning dibutuhkan kemauan dan kemampuan serta kreatifitas guru dalam mengelola lingkungan kelas. Sehingga dengan menggunakan model ini guru bukannya bertambah pasif tapi harus menjadi lebih aktif terutama saat menyusun rencana pembelajaran secara matang, pengaturan kelas saat pelaksanaan dan membuat tugas untuk dikerjakan oleh siswa bersama dengan kelompoknya.

Dalam model pembelajaran cooperative learning, dibutuhkan proses yang melibatkan niat dan kiat (will and skill) dari anggota kelompoknya Sehingga masing-masing siswa harus memiliki niat untuk bekerja sama dengan anggota lainnya, di samping itu juga harus memiliki kiat-kiat bagaimana caranya berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain. Dalam pengelolaan kelas model cooperative learning ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan yakni pengelompokan, pemberian motivasi kepada kelompok, dan penataan ruang kelas.

(a). Pembentukan Kelompok. Pada saat pembentukan kelompok guru membuat kelompok yang heterogen. Pembentukan kelompok dibentuk dengan memperhatikan kemampuan akademis. Pada umumnya masing-masing kelompok beranggotakan empat orang yang terdiri atas satu orang yang berkemampuan tinggi, dua orang yang berkemampuan sedang, dan satu orang yang berkemampuan rendah.

Alasan dibentuk kelompok heterogen adalah: Pertama, memberi kesempatan untuk saling mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung. Kedua, dapat meningkatkan relasi dan interaksi antar ras, etnik dan gender. Ketiga, memudahkan pengelolaan kelas karena masing-masing kelompok memiliki anak yang berkemampuan tingii (special hilper), yang dapat membantu teman lainnya dalam memecahkan suatu pemasalahan dalam kelompok.

(b). Pemberian semangat kelompok. Agar kelompok bisa bekerja secara efektif dalam proses pembelajaran cooperative learning ini maka masing-masing kelompok perlu memiliki semangat kelompok. Pemberian semangat ini sangat penting agar kelompoknya dapar bekerja lebih baik ini. Pemberian semangat ini bisa dibina dengan melakukan beberapa kegiatan yang bisa mempererat hubungan antara anggota kelompok. yaitu melalui kegiatan kesamaan kelompok, identitas kelompok, maupun sapaan atau sorak kelompok. Dengan demikian diharapkan tertanam perasaan saling memiliki di antara anggota kelompok. Rasa saling memiliki menciptakan nasa kebersamaan, kesatuan, kesepakatan dan dukungan dalam belajar. Dengan membangun rasa saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab dari pelajar.

(c). Penataan ruang kelas. Penataan ruang kelas sangat dipengaruhi oleh filsafat dan metode pembelajaran yang dipakai di kelas. Pada umumnya penataan ruang kelas diatur secara klasikal, karena hal ini sangat sesuai dengan metode ceramah. Dalam metode ini guru berperan sebagai nara sumber yang utama atau mungkin satu-satunya nara sumber untuk model cooperative learning guru tidak hanya sebagai satu-satunya nara sumber. Tetapi siswa juga bisa belajar dari temannya dan guru berperan sebagai fasilitator, motivator, mediator dan evaluator. Sebagai konsekuensinya ruang kelas harus ditata sedemikian rupa sehingga dapat menunjang terjadinya dialog dalam cooperative learning. Pengaturan bangku memainkan peranan penting dalam kegiatan belajar model cooperative learning ini sehingga semua siswa bisa melihat guru atau papan tulis dengan jelas. Disamping itu harus bisa melihat dan menjangkau rekan-rekan kelompoknya dengan baik dan berada dalam jangkauan kelompoknya dengan merata.

Oleh sebab itu, guru harus mampu menciptakan pengelolaan kelas cooperative learning, sehingga terjadi suatu proses interaksi yang satu individu dengan individu lainnya dapat terjadi, demikian pula interaksi antar kelompok dapat terbanguan. Karena inti dari cooperative learning adalah proses pembelajaran secara kelompok (grup).

Menurut berbagai kajian di temukan bahwa pembelajaran secara berkelompok kegiatan yang dapat menciptakan aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan dapat terbangun. Hasil dari proses pengajaran dan pembelajaran cooperative learning lebih optimal, dan banyak kelebihan dari pelaksanaan model pengajaran dan pembelajaran cooperative leraning ini jika dilakukan oleh guru. Semoga.

artikel pendidikan

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Moh Nuh mengingatkan, dalam dunia pendidikan tak boleh ada sikap diskriminatif yang disebabkan adanya perbedaan kaya dengan miskin akibat faktor wilayah kota dan desa sehingga seseorang kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan.

Pernyataan itu dikemukakan Nuh dalam jumpa pers seusai menghadiri seminar internasional pendidikan madrasah negara E-9 di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (3/11).

Negara E-9 adalah negara yang berpenduduk besar dan peduli dalam memajukan pendidikan. Negara itu adalah Banglades, Brasil, China, India, Indonesia, Meksiko, Mesir, Nigeria, dan Pakistan.

Sementara itu, Menteri Agama Suryadharma Ali di kesempatan yang sama mengatakan, pendidikan di madrasah mengacu kepada kurikulum pendidikan nasional ditambah pendidikan agama.

Para siswanya punya kesempatan yang sama untuk belajar sebagaimana yang materinya diberikan kepada siswa di sekolah yang ada di bawah Depdiknas. Jadi, tak ada perbedaan dalam upaya memajukan anak didik, kata Menag.

Namun, Suryadharma Ali mengakui bahwa kualitas anak didik di madrasah masih tertinggal dari anak didik yang berada di bawah Depdiknas. Hal ini terjadi karena latar belakangnya, mulai soal anggaran hingga kelengkapan pendukung di madrasah.

Moh Nuh mengingatkan agar cara pikir belajar di madrasah lebih rendah dihindari. Sebab, materinya toh tak jauh dan bahkan ada materi tambahan.

Mendiknas juga menjelaskan, dalam pendidikan juga tak boleh ada diskriminasi hanya karena dilatarbelakangi kaya dan miskin. Semua saling melengkapi dan punya kesempatan yang sama.

XVD

Editor: primus
Sumber : Ant

Sumber: Kompas.Com
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/11/03/1133268